Selasa, 29 Januari 2013

Marah

Tuan A memarahi saya di depan umum. Membuat saya malu, membuat saya hampir melayang pergi dari tempat itu dan kabur saja pakai angkot. Memang malu, tapi yang membuat saya marah adalah ketegaan Tuan A membuat saya malu di depan umum.



Kemudian saya katakan padanya dengan halus di luar gedung tempat saya dimarahi itu, "Tolong dong, saya tahu saya sangat bego sebagai manusia, tapi tolong dong jangan buat saya malu seperti itu di depan umum."

Yang kemudian saya terima adalah nasihat dari Tuan A bahwa saya memang terlalu lamban bergerak dan tidak bisa cepat mengambil keputusan. Saya marah.

Saya marah bukan karena saya dipermalukan. Ketika saya mengucapkan permintaan saya pada Tuan A, sebenarnya kemarahan saya sudah surut, tapi yang membuat saya marah sekali padanya adalah karena dia begitu tidak menghargai saya sehingga saya terus disalahkan untuk sesuatu yang membuat saya malu di hadapan orang lain. Bahkan permintaan tolong saya dianggap olehnya sebagai jalan baru untuk menasihati saya.

Saya merasa dianggap betul-betul cacat olehnya. Bukannya dia menghargai saya dengan diam saja, justru dia memanfaatkan kesempatan itu untuk membuat saya seolah memang pantas diperlakukan demikian di muka umum. Itulah yang membuat saya benar-benar tersinggung sehingga memutuskan tidak ingin lagi bicara dengan Tuan A sepanjang sisa hari itu.

Dia memang menang umur, tapi saya berhak untuk tidak dianggap bodoh oleh orang umum, paling tidak sebatas itulah permintaan saya.

Lalu Tuan A bercerita pada Ibu A yang kemudian mencoba memediasi masalah ini.

Saya yang sudah berusaha meredakan emosi terhadap Tuan A, jadi emosi lagi ketika Ibu A mengangkat masalah ini. Setelah Tuan A menceritakan masalah ini pada Ibu A, gantian saya yang ingin Ibu A mendengarkan versi saya. Sebenarnya ternyata tidak jauh berbeda. Tuan A tidak melebih-lebihkan ceritanya, tapi saya jadi kesal pada Ibu A karena Ibu A terus-menerus berkata:

"Ssst, sudah, sudah, nggak usah diperpanjang."

Itu rasanya seperti murid yang dituduh mencontek catatan di bawah meja padahal sebenarnya dia sedang mengambil penghapus yang jatuh.

Apakah saya memang tidak berhak membiarkan kekesalan hati saya keluar? Untuk saya, mengendapkan masalah seperti itu akan menyebabkan saya cacat, merasa cacat paling tidak, karena hati saya jadi dipenuhi kebencian dan teman-temannya. Saya jadi memandang dunia dengan kemurkaan, karena selalu merasa diperlakukan tidak adil, dan saya benci diri saya sendiri yang seperti itu.

Apakah saya tidak punya hak mengungkapkan isi hati saya?!!!


Semoga curhatan ini bisa membantu saya menenangkan kegusaran penuh amarah dalam hati saya. Saya benci merasa marah. Saat marah saya akan selalu menuruti emosi dan saya benci ketika saya menuruti emosi dan nafsu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar