Malioboro is annoying. Saya
datang ke Jogja untuk menikmati budaya dan—jujur saja—keramahan orang-orangnya.
Nggak nyangka begitu sampai di sana saya disambut orang-orang komersil yang
berbicara atas keberpihakannya yang nyata pada uang.
Dulu saya pernah ke Malioboro, beberapa tahun yang lalu saat saya masih
memegang uang dengan bangga karena diberi orang tua. Uang itu saya jaga
baik-baik, saya gunakan dengan bangga dan senang karena boleh berbelanja semau
saya. Saya mendapati keramahan Jogja sangat adiktif, saya jadi ingin ke sana
lagi. Sayangnya takdir saya membuat saya baru bisa ke sana lagi bertahun-tahun
kemudian.
Saya kaget dan terkejut karena Malioboro berubah dari dipenuhi pedagang
yang ramah dan penuh senyum menjadi dijejali pedagang bermuka masam yang pahit
dan bersikap: “Harganya segitu, mau ambil, nggak ya minggat sana.”
Sumpah, nyebelin banget.
Sebagai catatan saja, saya adalah tipe yang sama sekali tidak keberatan
membayar mahal kalau pelayanan transaksinya menyenangkan. Contoh: di gerai PH
(saya pakai inisial saja, tapi toh inisial ini sudah sangat terkenal, jadi saya
rasa kalau anda baca anda pasti akan tahu juga), meski rasa pizzanya bukan yang
paling—oh ya, saya tahu pizza namber wahid itu berasa seperti apa—tapi saya selalu
kembali ke sana lagi. Semata-mata karena tempatnya cozy, pelayanannya ramah. Memang ada beberapa gerai yang tidak
terlalu asyik, tapi tetap saja setidak asyik-tidak asyiknya pelayanan di gerai
PH, mereka tidak menjadi tidak ramah dan menyebalkan. Saya lebih memilih makan
pizza di PH daripada di tempat lain yang harganya sebenarnya lebih murah lagi
dengan level rasa relatif sama, tapi pelayanannya suck. Ini, saya bicara berdasarkan pengalaman. Artinya, ya, saya
pernah makan di tempat yang harganya selangit tapi semuanya (rasa, service, kebersihan, dll) hampir
sempurna; sampai di tempat yang makan nasi sampai kenyang hanya dua ribu perak.
Semua pernah—PH hanya contoh kasus—dan tempat langganan saya tidak melulu
tempat-tempat mewah.
Alasan saya datang kembali ke Malioboro adalah mendapatkan apa yang saya
idam-idamkan sebagai keramahan. Alih-alih saya mendapatkan sikap kecut seolah
mereka tidak butuh duit.
Saya butuh duit. Tapi saya tidak pelit untuk membelanjakan duit saya untuk
sesuatu yang saya suka. Menurut saya, sudah menjadi kode etik bahwa pelanggan
dan penjual harus sama-sama bersikap baik dan tidak saling menyerang demi
memperoleh kemaslahatan bersama. Jujur saja, di Malioboro saya merasa ditindas.
Mentang-mentang penjual banyak, mereka seenaknya memperlakukan calon pembeli
dengan tidak bersemangat.
Saya beri tahu ya, saya datang ke sana dengan wajah penuh senyum. Saya
sudah siap melakukan tawar-menawar dengan kelemahlembutan sikap khas orang
Jawa. Nggak nyangka di sana saya dapet tamparan berupa sikap nggak menghargai.
Ini bukan rasis, harap mengerti, tapi saya semakin kecewa karena mengetahui
bahwa sekarang para pedagang di Malioboro kebanyakan adalah orang Padang. Demi
Tuhan saya bersumpah bahwa di tempat lain yang ritme kehidupannya lebih keras,
saya menemui banyak pedagang asal Padang yang lebih ramah dan menyenangkan,
pandai membujuk serta sopan sekaligus.
Mereka yang saya temui di Malioboro... well...
pokoknya menyebalkan.
Bukan karena saya nggak suka orang Padang jualan di Jawa, tapi lebih tepat
dibilang saya kecewa pada individunya yang begitu kaku dan mahal senyuman.
Kurang keras apa Jakarta sebagai tempat hidup? Tapi saya dapati para pedagang
Padang di Jakarta lebih punya banyak stok senyum dan humor dibandingkan
beberapa yang saya temui di Malioboro.
Saya mengerti kalau suatu saat nanti saya dihujat karena membawa-bawa suku
bangsa. Tapi kebebasan saya bicara tidak tanpa dasar, jadi terserah saja. Yang
penting, intinya, saya kecewa. Saya kecewa berat kembali ke Malioboro dan
mendapati semua kemuraman yang mengelilingi jalanannya.
Semoga mereka semua mendapat pencerahan. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar