Kamis, 07 Februari 2013

Sudah tidak Jogja lagi


Malioboro is annoying. Saya datang ke Jogja untuk menikmati budaya dan—jujur saja—keramahan orang-orangnya. Nggak nyangka begitu sampai di sana saya disambut orang-orang komersil yang berbicara atas keberpihakannya yang nyata pada uang.

Dulu saya pernah ke Malioboro, beberapa tahun yang lalu saat saya masih memegang uang dengan bangga karena diberi orang tua. Uang itu saya jaga baik-baik, saya gunakan dengan bangga dan senang karena boleh berbelanja semau saya. Saya mendapati keramahan Jogja sangat adiktif, saya jadi ingin ke sana lagi. Sayangnya takdir saya membuat saya baru bisa ke sana lagi bertahun-tahun kemudian.
Saya kaget dan terkejut karena Malioboro berubah dari dipenuhi pedagang yang ramah dan penuh senyum menjadi dijejali pedagang bermuka masam yang pahit dan bersikap: “Harganya segitu, mau ambil, nggak ya minggat sana.”
Sumpah, nyebelin banget.
Sebagai catatan saja, saya adalah tipe yang sama sekali tidak keberatan membayar mahal kalau pelayanan transaksinya menyenangkan. Contoh: di gerai PH (saya pakai inisial saja, tapi toh inisial ini sudah sangat terkenal, jadi saya rasa kalau anda baca anda pasti akan tahu juga), meski rasa pizzanya bukan yang paling—oh ya, saya tahu pizza namber wahid itu berasa seperti apa—tapi saya selalu kembali ke sana lagi. Semata-mata karena tempatnya cozy, pelayanannya ramah. Memang ada beberapa gerai yang tidak terlalu asyik, tapi tetap saja setidak asyik-tidak asyiknya pelayanan di gerai PH, mereka tidak menjadi tidak ramah dan menyebalkan. Saya lebih memilih makan pizza di PH daripada di tempat lain yang harganya sebenarnya lebih murah lagi dengan level rasa relatif sama, tapi pelayanannya suck. Ini, saya bicara berdasarkan pengalaman. Artinya, ya, saya pernah makan di tempat yang harganya selangit tapi semuanya (rasa, service, kebersihan, dll) hampir sempurna; sampai di tempat yang makan nasi sampai kenyang hanya dua ribu perak. Semua pernah—PH hanya contoh kasus—dan tempat langganan saya tidak melulu tempat-tempat mewah.
Alasan saya datang kembali ke Malioboro adalah mendapatkan apa yang saya idam-idamkan sebagai keramahan. Alih-alih saya mendapatkan sikap kecut seolah mereka tidak butuh duit.
Saya butuh duit. Tapi saya tidak pelit untuk membelanjakan duit saya untuk sesuatu yang saya suka. Menurut saya, sudah menjadi kode etik bahwa pelanggan dan penjual harus sama-sama bersikap baik dan tidak saling menyerang demi memperoleh kemaslahatan bersama. Jujur saja, di Malioboro saya merasa ditindas. Mentang-mentang penjual banyak, mereka seenaknya memperlakukan calon pembeli dengan tidak bersemangat.
Saya beri tahu ya, saya datang ke sana dengan wajah penuh senyum. Saya sudah siap melakukan tawar-menawar dengan kelemahlembutan sikap khas orang Jawa. Nggak nyangka di sana saya dapet tamparan berupa sikap nggak menghargai.

Ini bukan rasis, harap mengerti, tapi saya semakin kecewa karena mengetahui bahwa sekarang para pedagang di Malioboro kebanyakan adalah orang Padang. Demi Tuhan saya bersumpah bahwa di tempat lain yang ritme kehidupannya lebih keras, saya menemui banyak pedagang asal Padang yang lebih ramah dan menyenangkan, pandai membujuk serta sopan sekaligus.
Mereka yang saya temui di Malioboro... well... pokoknya menyebalkan.
Bukan karena saya nggak suka orang Padang jualan di Jawa, tapi lebih tepat dibilang saya kecewa pada individunya yang begitu kaku dan mahal senyuman. Kurang keras apa Jakarta sebagai tempat hidup? Tapi saya dapati para pedagang Padang di Jakarta lebih punya banyak stok senyum dan humor dibandingkan beberapa yang saya temui di Malioboro.

Saya mengerti kalau suatu saat nanti saya dihujat karena membawa-bawa suku bangsa. Tapi kebebasan saya bicara tidak tanpa dasar, jadi terserah saja. Yang penting, intinya, saya kecewa. Saya kecewa berat kembali ke Malioboro dan mendapati semua kemuraman yang mengelilingi jalanannya.
Semoga mereka semua mendapat pencerahan. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar